Senin, 19 Oktober 2009
Minggu, 13 September 2009
BERSYUKURLAH KARENA ANDA WANITA YANG LEBIH BERUNTUNG
Yang pertama :
Tentang cerita seorang peneliti yang datang ke kota yang paling maju di India.
Di sana masih ada tradisi pembakaran pengantin wanita yang tidak bisa membayar mas kawin. Setiap hari pasti terjadi hal seperti itu. Dan di sana sudah dianggap hal yang biasa.
Kalau di papan-papan kecelakaan lalu lintas di India, tertulis jumlah korban kecelakaan yang terjadi di jalan-jalan yang berbahaya, tapi jumlah pembakaran wanita tidak pernah diberitakan.
Peneliti tersebut menayangkan hasil rekamannya di acara oprah tersebut..dan memang benar-benar mengerikan.
Biasanya kalau keluarga pihak pria mengalami kebangkrutan, atau pihak keluarga wanita kurang/tidak bisa melunasi mas kawinnya, maka si istri akan dibakar hidup-hidup di dalam rumahnya. Ada yang meninggal, tapi ada juga yang selamat (berhasil menyelamatkan diri) ... tapi keadaannya sangat menderita...
Mereka yang selamat, datang ke rumah sakit... dan tidak pernah memberikan alasan yang sebenarnya.. . karena kalau mereka berani bicara, maka mereka / keluarganya akan dibunuh. Karena itu, alasan yang mereka berikan, pasti kecelakaan di dapur... kompor meledak, dan sebagainya.. tidak pernah mereka bisa berterus terang.. mereka takut.
Dan yang memperburuk keadaan, suami-suami mereka berkumpul di depan pintu rumah sakit (yang ditutup untuk menghalangi mereka), memaksa masuk, hanya untuk mengancam istri-istri mereka. (note: ruangan untuk istri-istri mereka ini adalah ruangan khusus, karena mereka semua yang dirawat adalah korban yang dibakar, sehingga bau menyengat selalu memenuhi ruangan.. )
Sewaktu di India, si peneliti ditemani oleh seorang wanita India yang berkerja di bagian organisasi wanita yang menangani masalah-masalah seperti ini. Dia mengatakan, alasan-alasan wanita ini dibakar, kadang bukan hanya karena mas kawin saja, tapi ada juga karena hal sepele. Misalnya sewaktu suami pulang, masakan belum siap, maka si suami akan menuang bensin ke istrinya dan membakarnya. . Pernah ada suami yang marah dan membakar istrinya, anak perempuannya yang masih kecil ikut terbakar karena berusaha menyelamatkan ibunya. Keduanya selamat, tapi cacat.. dan si anak trauma dengan kejadian itu.
Karena tradisi inilah, maka banyak sekali bayi-bayi perempuan di india yang digugurkan, karena keluarga hanya menganggapnya sebagai beban jika ia dewasa.
Kejadian terakhir yang bisa memberikan sedikit harapan, adalah pernikahan seorang gadis yang ayahnya telah menabung 10 tahun demi mempersiapkan mas kawin untuknya. Tapi pada hari pernikahan, tetap saja mas kawinnya kurang, dan keluarga pria menghina ayahnya dan meludahi ayahnya.. Sang gadis langsung melaporkan kejadian ini ke polisi, dan keluarga pria ditahan.
Sejak saat ini, barulah ada yang mulai berani mengikuti jejaknya. Karena sebenarnya, jika mereka berani melaporkan ke pihak berwajib, pasti keluarga pria akan ditindak. Jika kita melihat ke sel tahanan di sana, kita akan melihat, dalam satu sel, ada yang berisi satu keluarga... Cuma karena mereka takut dengan ancaman, sedikit sekali yang berani melaporkan..
Pada akhir acara oprah, si peneliti mengatakan, berita dukanya, saat ini, seluruh korban di rumah sakit yang tadi ditayangkan, tidak dapat diselamatkan. . kondisi mereka terlalu parah..
Yang kedua :
Acara tentang seorang dokter yang telah mendedikasikan kehidupannya untuk para wanita di ethiopia yang menderita fistula.
Di ethiopia , terdapat para keluarga yg tinggal jauh dari jalan besar... mereka tinggal dipinggiran.
Ada tradisi di sana dimana anak perempuan yang baru berumur 8-9 tahun sudah dinikahkan dan tinggal bersama keluarga anak lelaki. Pada saat si anak perempuan sudah mendapat mensturasi, barulah si anak akan 'bersetubuh' . Maka itu pada usia yang sangat muda, mereka sudah mengandung.
Sayangnya proses kelahirannya tidak dibantu apa-apa ... bahkan tidak ada bidan di sana.
Ada yang melahirkan prosesnya berhari-hari ... bahkan sampai 6 hari ... akhirnya bayinya meninggal karena terlalu lama... dan keluar (karena badan bayi sudah mengecil)...
Karena proses melahirkan yang sulit dipicu oleh kondisi jasmani ibu muda yang belum cukup umur tersebut, seringkali proses mengejan akhirnya merusak saluran kemih dan saluran BAB sang ibu. Akibatnya, pasca melahirkan, si ibu tidak dapat mengontrol saat buang air kecil dan air besar. Ia dapat buang air kecil dan air besar setiap saat tanpa disadari dan menetes terus dr saluran yang rusak tersebut. Belum lagi luka akibat melahirkan yang tidak diobati sampai akhirnya bernanah dan berbau.
Tidak tahan dengan bau tersebut, maka suami akan mengusir istrinya ke rumah orang tuanya. Orang tua si istri dengan tangan terbuka menerima anaknya kembali dan membuatkan gubuk kecil di depan/belakang rumah mereka, agar si anak bisa tinggal di sana sampai sembuh...(karena bau sang anak tidak memungkinkan untuk tetap tinggal bersama orangtua). Sayangnya mereka tidak pernah sembuh dan selamanya hidup terasing... sampai si dokter wanita ini muncul di sana...
Awalnya dokter ini datang hanya untuk kunjungan, tetapi setelah melihat keadaan di sana, dia memutuskan untuk tetap di sana dan akhirnya mendirikan rumah sakit khusus untuk para penderita fistula ini. Dia merawat dengan kasih sayang dan memberikan kembali rasa percaya diri para wanita ini. Dia melakukan operasi untuk menyembuhkan para wanita ini... tanpa dikenakan biaya sepeser pun. Para wanita ini datang pun dengan pengorbanan yang luar biasa... ada dari mereka yg berjalan bermil-mil.. .. ada yang menjual ternaknya... ada yang menjual harta bendanya.. demi mereka bisa sampai di rumah sakit.
Kadang setelah mereka punya ongkos untuk naik kendaraan, tapi di kendaraan itu mereka diminta turun, karena mereka bau... dan tidak bisa menahan untuk buang air.. sehingga akhirnya mereka terpaksa berjalan..
Di rumah sakit yang didirikan bersama suaminya, sang Dokter selain melakukan operasi untuk fistula tersebut, dia juga memberikan kehidupan baru bagi mereka.
Setelah selesai operasi dan penyembuhan, para wanita ini akan pulang dengan pakaian baru dan tentu saja harapan akan kehidupan baru.
Suatu sharing yang luar biasa yang dibagikan dalam acara tersebut. Saya bersyukur sekali telah melihatnya.
Saatnya kita syukuri anugrah yang telah kita dapatkan dalam kehidupan kita. Anda dan para wanita di sekitar kita mungkin memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Terlepas dari berbagai cobaan dan beban hidup yang dialami. Namun nun jauh disana, di bawah sinar matahari yang sama, di bumi yang sama dengan yang kita pijak saat ini.. ada wanita-wanita lain yang memiliki kehidupan yang berbeda. Penderitaan yang mungkin lebih berat dari yang dapat kita bayangkan...
Pertapa Muda Dan Kepiting
Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, tampak seorang pertapa muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai.
Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak beraturan.
Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya.
Pertapa itu segera melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi berasal.
Ternyata, di sana tampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.
Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan.
Karena itu, ia segera mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya.
Melihat tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa muda.
Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting.
Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya.
Belum lama bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang sama dari arah tepi sungai.
Ternyata kepiting tadi mengalami kejadian yang sama.
Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi membantunya.
Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus lagi.
Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya makin membengkak karena jepitan capit kepiting.
Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang menghampiri dan menegur si pertapa muda, "Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan hatimu yang baik.
Tetapi, mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?"
"Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda.
Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih.
Maka, saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa makhluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting," jawab si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih sikap belas kasihnya dengan baik.
Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut sebuah ranting.
Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang terlihat kembali melawan arus sungai.
Segera, si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya.
"Lihat Anak Muda. Melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan.
Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong makhluk lain, bukankah tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri. Ranting pun bisa kita manfaatkan, betul kan ?"
Seketika itu, si pemuda tersadar.
"Terima kasih, Paman. Hari ini saya belajar sesuatu.
Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan kebijaksanaan. **
Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang Paman ajarkan."
Pembaca yang budiman, Mempunyai sifat belas kasih, mau memerhatikan dan menolong orang lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada anak kita, orangtua, sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun.
Tetapi, kalau cara kita salah, sering kali perhatian atau bantuan yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi bumerang.
Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya sekadar berniat membantu, malah harus menanggung beban dan kerugian yang tidak perlu.
Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya diberikan dengan cara yang tepat dan bijak.
Dengan begitu, bantuan itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif
bagi yang dibantu, tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi kita yang membantu.
Jumat, 17 Juli 2009
Burung dengan sebelah sayap
the story inspiring me to write again...
Seorang teman dengan potensi tinggi, mengeluh berat setelah pindah-pindah kerja di lebih dari lima tempat. Tadinya, saya fikir ia mencari penghasilan yang lebih tinggi. Setelah mendengarkan dengan penuh empati, rekan ini rupanya mengalami kesulitan dengan lingkungan kerja. Di semua tempat kerja sebelumnya, dia selalu bertemu dengan orang yang tidak cocok. Di sini tidak cocok dengan atasan, di situ bentrok dengan rekan sejawat, di tempat lain malah diprotes bawahan.
Kalau rekan di atas berhobi pindah-pindah kerja, seorang sahabat saya yang lain punya pengalaman yang lain lagi. Setelah berganti istri sejumlah tiga kali, dengan berbagai alasan yang berbau tidak cocok, ia kemudian merasa capek dengan kegiatan berganti-ganti pasangan ini. Seorang pengusaha berhasil punya pengalaman lain lagi. Setiap kali menerima orang baru sebagai pimpinan puncak, ia senantiasa semangat dan penuh optimis. Seolah-olah orang baru yang datang pasti bisa menyelesaikan semua masalah. Akan tetapi, begitu orang baru ini berumur kerja lebih dari satu tahun, maka mulailah kelihatan busuk-busuknya. Dan ia pun mulai capek dengan kegiatan berganti-ganti pimpinan puncak ini.
Digabung menjadi satu, seluruh cerita ini menunjukkan bahwa kalaumotif kita mencari pasangan - entah pasangan hidup maupun pasangan kerja - adalah mencari orang yang cocok di semua bidang, sebaiknya dilupakan saja.
Bercermin dari semua inilah, maka sering kali saya ungkapkan di depan lebih dari ratusan forum, bahwa fundamen paling dasar dari manajemen sumber daya manusia adalah manajemen perbedaan. Yang mencakup dua hal mendasar : menerima perbedaan dan mentransformasikan perbedaan sebagai kekayaan.
Sayangnya, kendati idenya sederhana, namun implementasinya memerlukan upaya yang tidak kecil. Ini bisa terjadi, karena tidak sedikit dari kita yang menganggap diri seperti burung yang bersayap lengkap. Bisa terbang (baca : hidup dan bekerja ) sendiri tanpa ketergantungan pada orang lain. Padahal, meminjam apa yang pernah ditulis Luciano de Crescendo, kita semua sebenarnya lebih mirip dengan burung yang bersayap sebelah. Dan hanya bisa terbang kalau mau berpelukanerat-erat bersama orang lain.
Anda boleh berpendapat lain, namun pengalaman, pergaulan dan bacaansaya menunjukkan dukungan yang amat kuat terhadap pengandaian burung bersayap sebelah terakhir.
Di perusahaan, hampir tidak pernah saya bertemu pemimpin berhasil tanpa kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Di keluarga, tidak pernah saya temukan keluarga bahagia tanpa kesediaan sengaja untuk 'berpelukan' dengan anggota keluarga yang lain. Di tingkat pemimpin negara, orang sehebat Nelson Mandela dan Kim Dae Jung bahkan mau berpelukan bersama orang yang dulu pernah menyiksanya.
Lebih-lebih kalau kegiatan berpelukan ini dilakukan dengan penuhcinta. Ia tidak saja merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, mentransformasikan kegagalan menjadi keberhasilan, namun juga membuat semuanya tampak indah dan menyenangkan. Makanya, penulis buku Chicken Soup For The Couple Soul mengemukakan, cinta adalah rahmat Tuhan yang terbesar.
Demikian besarnya makna dan dampak cinta, sampai-sampai ia tidak bisa dibandingkan dengan apapun.Rugi besarlah manusia yang selama hidupnya tidak pernah mengenal cinta. Ia seperti pendaki gunung yang tidak pernah sampai di puncak gunung. Capek, lelah, penuh perjuangan namun sia-sia.
Ini semua, mendidik saya untuk hidup dengan pelukan cinta.
Di pagi hari ketika baru bangun dan membuka jendela, saya senantiasa berterimakasih akan pagi yang indah. Dan mencari-cari lambang cinta yang bisa saya peluk. Entah itu pohon bonsai di halaman rumah, ikan koi di kolam, atau suara anak yang rajin menonton film kartun. Begitu keluar dari kamar tidur, akan indah sekali hidup ini rasanya kalau saya mencium anak, atau istri. Melihat burung gereja yang memakan nasiyang sengaja diletakkam di pinggir kali, juga menghasilkan pelukancinta tersendiri. Demikian juga dengan di kantor, godaan memang ada banyak sekali. Dari marah, stres, frustrasi, egois sampai dengan nafsu untuk memecat orang.
Namun, begitu saya ingat karyawan dan karyawati bawah yang bekerja penuh ketulusan, dan menghitung jumlah perut yang tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan, energi pelukan cinta entah datang dari mana.
Kembali ke pengandaian awal tentang burung dengan sebelah sayap, Tuhan memang tidak pernah melahirkan manusia yang sempurna. Kita selalu lebih di sini dan kurang di situ. Atau sebaliknya. Kesombongan atau keyakinan berlebihan yang menganggap kita bisa sukses sendiri tanpa bantuan orang lain, hanya akan membuat kita bernasib sama dengan burung yang bersayap sebelah, namun memaksa diri untuk terbang.
Sepintar dan sehebat apapun kita, tetap kita hanya akan memiliki sebelah sayap. Mau belajar, berjuang, berdoa, bermeditasi atau sebesar dan sehebat apapun usaha kita, semuanya akan diakhiri dengan jumlah sayap yang hanya sebelah. Oleh karena alasan inilah, saya selalu ingat pesan seorang rekan untuk memulai kehidupan setiap hari dengan pelukan. Entah itu memeluk anak, memeluk istri, memeluk kehidupan, memeluk alam semesta, memeluk Tuhan atau di kantor memulai kerja dengan 'memeluk' orang lain.
thanks to Gede Permana Inspiring.
Selasa, 24 Februari 2009
Sisi Lain Ponari Jombang
dari milis sebelah....
Jombang itulah nama daerahnya, konon sejarahnya daerah ini dinamai dengan sebutan Jombang dikarenakan adanya dua dimensi yang ada dalam masyarakatnya, setidaknya bisa disebut ijo abang (hijau dan merah). Sebuah warna yang memang dipilih sebagai simbol untuk sebuah strata seseorang, hijau mewakili orang yang melek huruf, atau santri kata yang berasal dari bahasa kuno sastri (melek huruf) dan berkaitan juga dengan cantrik anda bisa membacanya secara lengkap dalam catatan sejarah yang ada.
Untuk memberi gambaran secara lebih dekat anggap saja Ryan (si jagal jombang) mewakili kelompok merah alias masyarakat yang membuat nilai daerahnya tertulis dengan nilai merah, dan Ponari sebagai wakil dari kelompok hijau (penyembuh) hal demikian adalah sebagai bentuk penyeimbang, dan mungkin hebohnya berlipat ganda dibanding hebohnya Ryan.
Itu adalah contoh terkini, dan hampir seluruh Indonesia tahu, meski pada sejarahnya banyak juga kisah rakyat dan mungkin realita pada zamannya, bahwa disanalah gudang dua hal itu, toh dimanapun hal demikian juga akan selalu ada, dimana ada baik disitu ada buruk, sebab tidak akan mungkin sebuah kebaikan itu hadir tanpa diimbangi dengan keburukan, surga pun tak akan laku jika neraka tidak ada.
Sebuah fenomena yang unik bagi saya melihat puluhan ribu orang mengantri untuk minta obat, yang secara rasional tertolak mentah-mentah, namun toh sehebat apapun rasio tak bisa mengalahkan realita yang ada. Banyak dari kalangan kesehatan terweleh-welehkan (dalam bahasa gaulnya, ilmu yang dipelajarinya dicampakkan dengan kejadian ponari), bocah umur 9 tahun yang habis tersambar petir dan mendapat batu, dan ketika batu itu dibuang ternyata kembali ketempat ponari lagi, pembaca boleh percaya boleh tidak, namun penulis yakin ponari bukan pembohong layaknya dukun-dukun itu.
Orang mengatakan Ponari adalah dukun cilik, namun menurut penulis dia bukan dukun, namun hanya kebetulan diberi kelebihan oleh Allah, itu pun karena batu yang datang min haitsu la yahtasib, namun setidaknya efeknya positif, kalau memang itu bisa membuat orang jadi sembuh lantaran hal itu, toh juga yang menyembukan Allah. Jika ada orang yang kurang berilmu berkata itu syirik, saya kira perlu hati-hati, berobat ke dokter dan ke ponari adalah sama, menyakini jika minum obat dari dokter membuat dia sembuh adalah keliru, sebagaimana menyakini minum air yang dicelupi batunya ponari. Kecuali jika mereka tetap yakin yang menyembuhkan adalah Allah, lewat air itu, atau obat dari dokter.
Anda bisa simak sejarah nabi Musa ketika sakit gigi, ketika dia memohon kesembuhan pada Allah dia disuruh mengambil sebuah rerumputan, disaat yang lain dia sakit lagi, dan langsung mengambil rerumputan dan melupakan Allah, akhirnya sakitnya malah parah, setelah itu baru sadar dan mendapat teguran dari Allah.
Kisah ponari ini menurut penulis adalah sebuah peringatan kepada pemerintah Indonesia, dimana pelayanan kesehatan begitu minim dan mahal, baru daftar menjadi pasien saja sudah mahal apalagi resmi menjadi pasien dan harus menebus obat-obat yang mahal, maka tak heran jika puluhan ribu orang rela antri berhari-hari hanya karena pengobatan yang murah.
Hal demikian juga mengulang sejarah nabi Isa, juru pengobatan yang tak masuk akal pada saat kekuatan akal diagung-agungkan oleh kaum yahudi yang memang rasionalis, bahkan nabi Isa pun dilahirkan tanpa ayah, sebagai bukti bahwa Allah mampu melakukan apa yang akal manusia tak mampu menjangkau.
Penulis pun terkadang terbentur dengan hal demikian, ketika mencoba menjadikan sesuatu sesuai akal dalam sejarah-sejarah para nabi, para wali, dan orang sholeh lainya. Satu contoh adalah Hajar aswad, batu hitam yang diciumi jutaan orang, yang sekarang terletak disebuah sudut ka’bah, batu itu dalam tafsir yang penulis pelajari, adalah batu dari surga, buah-buahan yang diberikan untuk maryam ketika i’tikaf dalam tempat khalwatnya adalah dari surga, Istri salah seorang wali di Indonesia .juga bidadari dari surga.
Disitulah manusia diuji antara percaya dan tidak percaya, dan disitu pula manusia diajari bahwa yang gaib itu ada, dan yang ada itu gaib. Yang atas itu bawah dan yang bawah itu atas, up is down kata orang inggris, dan penulis yakin ketika pembaca berpikir sejenak dari contoh yang akan penulis berikan, pembaca akan sadar.
Contoh atas adalah bawah.
Kita semua tahu bahwa bumi adalah bulat, langit yang kita anggap diatas kita sebenarnya adalah dibawah bumi, dan langit yang dibawah bumi sebenarnya diatas kita. Anggap saja apa yang dianggap tertinggi dibagian bumi amerika, adalah apa yang dianggap rendah oleh bagian bumi Indonesia, dan semakin tinggi orang menumpuk harta, semakin dalam pula ia terkubur dengan harta.
Kalau saja umur kita diakhirat nanti sama dengan umur kita didunia, anda bisa bayangkan jika satu hari penuh kita berdosa, sebagai balasan kejelekan adalah 1:1 maka kita akan terhukum selama 1000 tahun dunia, karena satu hari diakhirat sama dengan 1000 tahun didunia. Nah kalau berbuat baik kan sistemnya 1:10, so jika kita beramal baik satu hari penuh maka balasannya 10.000 tahun, coba bayangkan kalau seumur hidup kita mampu beramal baik.
Maka, kata guruku “dalam diam, janganlah hatimu diam, dalam ramai, janganlah hatimu ramai”, ini penulis jabarkan aja, yang jelas iintinya guruku berpesan jika hatimu menyebut Allah tiap detaknya, bukankah itu tabungan kebaikan dan setiap kebaikan akan dibalas, sementara waktu tak bisa di pause atau di replay, jika hari ini kamu tidak menyebut Allah, maka kamu tak akan dapat mencari waktu hari ini, setelah hari ini.
Dalam diamnya mulut kita, dzikirlah yang keras dengan hati kita, dan dalam ramainya mulut kita, janganlah hati kita ramai kecuali untuk menyebut Allah. Janganlah mulut kita dzikir dengan keras sementara hati kita tidur atau bahkan wisata kemana-mana, apalagi mulut kita tidak berdzikir, hati kita maksiat, na’udzubillah!.
Kamis, 19 Februari 2009
Yang Diharapkan ya... Doanya
Karyawan adalah asset perusahaan ketika suatu perusahaan maju, berkembang dan dikenal disuatu tempat, kota atau negara, semua itu karena karyawannya. Karyawan sendiri terbagi dalam urutan level atau kasta atau pangkat, tetaplah mereka karyawan yang mengharapkan gaji.
Asset, seperti juga asset benda-benda mati yang bergerak ataupun tidak, karyawan juga memerlukan maintenance, perawatan. Terkadang perusahaan tidak mau repot, serahkan ke perusahaan asuransi … sudah !
Perusahaan asuransi sendiri tidak sepenuhnya menjamin biaya perawatan karyawan manakala sakit.
Tetapi asset yang rusak, mobil, mesin mendapat 100 % dari perusahaan yang duitnya dari karyawan, karena karyawan yang mencari.
Kenapa karyawan ? mesin rusak tidak bisa dimarahi, karyawan telat dimarahi, gaji dipotong, apakah betul karyawan adalah asset???
Seorang teman berkata.... ” karyawan sangat saya utamakan kesejahteraannya, kesehatan, bahkan kebutuhan lain yang diperlukan” terangnya.
”Kenapa begitu pak?”tanya saya.
”Karena dari karyawan yang bersyukur mereka akan berdoa yang baik untuk perusahaan tempat dia bekerja , doa yang baik tentu yang saya harapkan, bukan hinaan, cacian atau keluh kesah yang secara tidak langsung saya dengar, tapi doa karyawan adalah kekuatan bagi perusahaan saya, rezeki, uang akan mengalir sebagaimana Ia mendengarkan doa-doa yang ikhlas, doa dari karyawan yang merasa teraniaya karena merasa tidak diperhatikan, tidak dihargai, tidak dipercaya , dimarahi biasanya akan makbul, begitu juga doa dari orang-orang atau karyawan yang ikhlas.”
Meredam Marah
Perpustakaan Islam...
Marah dan emosi adalah tabiat manusia. Kita tidak dilarang marah, namun diperintahkan untuk mengendalikannya agar tidak sampai menimbulkan efek negatif. Dalam riwayat Abu Said al-Khudri Rasulullah saw bersabda Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridlai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridlai (H.R. Ahmad).
DAlam riwayat Abu Hurairah dikatakan Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah (H.R. Malik).
Menahan marah bukan pekerjaan gampang, sangat sulit untuk melakukannya. Ketika ada orang bikin gara-gara yang memancing emosi kita, barangkali darah kita langsung naik ke ubun-ubun, tangan sudah gemetar mau memukul, sumpah serapah sudah berada di ujung lidah tinggal menumpahkan saja, tapi jika saat itu kita mampu menahannya, maka bersyukurlah, karena kita termasuk orang yang kuat.
Cara-cara meredam atau mengendalikan kemarahan:
1. Membaca Ta'awwudz. Rasulullah bersabda Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang kemarahan seseorang, yaitu A'uudzu billahi mina-syaithaani-r-rajiim Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk (H.R. Bukhari Muslim).
2. Berwudlu. Rasulullah bersabda Kemarahan itu dari syetan, sedangkan syetan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah berwudlulah (H.R. Abud Dawud).
3. Duduk. Dalam sebuah hadist dikatakan Kalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka bertiduranlah (H.R. Abu Dawud).
4. Diam. Dalam sebuah hadist dikatakan Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah (H.R. Ahmad).
5. Bersujud, artinya shalat sunnah mininal dua rakaat. Dalam sebuah hadist dikatakan Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barang siapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud). (H.R. Tirmidzi)